Ini adalah sebuah potret kecil kepanikan orang-orang akibat banjir bandang yang mungkin saja terjadi di berbagai daerah di negara kita tercinta ini. Banjir yang telah menelan bahkan mungkin hingga ribuan korban jiwa.
Malam itu sangat gelap, tiada cahaya sedikitpun baik dari sorotan lampu maupun terangnya bulan serta kelip bintang. Gelap mencekam. Itulah gambaran suasana malam itu yang ditambah dengan curahan hujan yang jatuh dari atas langit yang pekat.
Derasnya air bah itu begitu mengusik ketenangan seorang ayah, Darmo Hari (49).
Seorang ayah yang begitu mengkhawatirkan anaknya. Seorang anak laki-lakinya yang masih berusia 9 tahun. Anak yang hanya tinggal berdua dengan istrinya terkasih yang mungkin kini sedang menangis dan panik karena banjir telah mengelilingi rumah mereka.
Keinginannya untuk segera bertemu anaknya telah melecutkan keberaniannya untuk menyebrangi jembatan yang sudah tidak terlihat lagi permukaannya dengan arus air yang begitu deras. Jembatan yang telah memisahkan dirinya dengan keluarganya. Jembatan Sitiarjo di Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang.
Teriakan- teriakan ratusan warga yang sama-sama menunggu surutnya banjir tidak membuatnya menyurutkan langkah untuk menerjang banjir.
Dering hanphone yang ternyata dari anaknya semakin memantapkan tekadnya untuk segera melangkah menyeberangi jembatan itu. Jerit tangis histeris anaknya yang menyuruhya segera pulang.
Dilucutinya pakaiannya satu persatu. Dompet dan handphone dimasukkannya ke dalam tas kresek hitam yang didapat dari warga. Dengan tangan yang membawa semua barang-barang itu, diseberanginya jembatan yang telah diterjang arus deras setinggi 1,5 meter.
Tubuh Hari yang sedang menerobos banjir terhempas hingga dua kali. Dan dalam gelap dan dinginnya air bah dia berpegangan pada pohon pisang yang banyak ditanam di pinggir sungai itu.
Derasnya banjir membuatnya tidak kuasa menahan arus sungai yang sangat keras. Pegangannya terlebas dan tubuhnya kembali terhempas pada pohon lamtoro yang lebih kokoh.
Dengan sisa tenaganya, dia berusaha bertahan dengan berpegangan pada pohon lamtoro itu. Pikirannya bertambah kalut manakala hanphone yang ada dalam kresek berdering yang mana itu adalah panggilan dari istrinya.
Setelah sekitar 30 menit berlalu banjir mulai surut. Dalam gelap dia tersadar jika handphonenya ada fasilitas senter. Dinyalakannya senter seraya memberi tanda kepada warga sekitar bahwa dia baik-baik saja.
Pertolongan datang. Dengan dibantu 3 orang warga, dia dibantu turun dari atas pohon lamtoro yang sejak tadi dipeluknya.
“Bapak… Bapak…”, teriak anaknya menyambutnya sesampai di rumah. Hari terenyuh mendengar teriakan anaknya. Dipeluknya Dion dengan erat.
Entah karena tidak ingin terpisah lagi dengan anaknya, dililitkanlah sarung ke tubuh anaknya dan dirinya dengan harapan jika terjadi apa-apa dia tetap berdua dengan anaknya.
Keesokan paginya banjir telah hilang dan keluarga kecil itu sibuk membersihkan rumahnya dari genangan lumpur.
arnwa Said:
on April 30, 2010 at 9:58 am
Sungguh suatu kisah yang sangat mengharukan, yang patut hendaknya ditiru perjuangan bapak dengan cinta pada anaknya. karan cinta bisa membangkitkan kekutan seorang manusia. Andai saja cerita ini didengar/dilihat/atau dapat disaksikan oleh insan perfilman, bisa menjadi ide untuk diangkat ke dalam cerita film.
nawi Said:
on April 30, 2010 at 1:35 pm
hmm….. cerita yang mengharukan……. cuma bingung yg mana yg dibilang ‘potret Ayah Menerjang Jembatan …….. ” itu ya
?
icekiddie Said:
on May 1, 2010 at 12:09 pm
khan inget poin penting pertama dalam membuat berita…Judul harus menarik…..Itu khan berita kisah buk nawi……(feature)
nawi Said:
on May 2, 2010 at 12:46 am
huwaaa….. emg sih bikin judul mesti semenarik mungkin tp jgn sampai lewat dari batas norma menulis dunk… :-w tetep ada aturan maennya..
icekiddie Said:
on May 3, 2010 at 3:18 pm
coba cek lagi…yang dimaksud menerjang jembatan to, memang benar menerjang jembatan yang diluapi air bah……ga salah khan???
orange float Said:
on May 13, 2010 at 1:28 pm
syukurlah mereka selamat, saya sempat merinding baca tulisan ini